Rabu, 18 Desember 2013

Etika Jawa



RINGKASAN BUKU
Sebuah karya berjudul “Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa” ini merupakan hasil penelitian Franz Magnis-Suseno selama bertahun-tahun. Sebuah buku setebal lebih dari 250 halaman, diterjemahkan sendiri oleh pengarangnya dari judul aslinya Javanische Weisheit und Ethik, Studien zu einer östlichen Moral. Berikut ini ringkasan isi bukunya:
Bab I Pendahuluan
Pada bab pendahuluan bersisi mengenai deskripsi pengertian-pengertian serta batasan-batasan yang diperlukan sebagai standart penulisan karya ilmiah. Antara lain:
1.  Mengenali Etika Jawa, Untuk apa?
Alasan Magnis dalam meneliti etika Jawa, pertama: budaya masyarakat Jawa mengalami keterasingan. Kedua: mencari sudut pandang lain pasalnya etika secara eksklusif hanya berkembang di barat.
2.  Dua Pembatasan
Pertama: penelitian ini bukanlah penelitian Antropologis meski datanya diperoleh dari data-data antropologis dan sosiologis. Kedua: cakupan kajiannya hanya seputar “orang Jawa”, “masyarakat Jawa” dan “etika Jawa”.
3.  Apa itu “Orang Jawa”
Orang Jawa, masyarakat Jawa?
4.  Apa itu “Etika”
Pengertian etika Jawa dalam buku itu ialah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat untuk mengetahui bagaimana seharusnya menjalani hidupnya.
5.  Susunan Buku ini
Berisi mengenai teknis penulisan buku.
Bab II Pengantar ke dalam Masyarakat Jawa
Secara garis besar bagian ini berisi pembahasan mengenai lingkungan, masyarakat dan sejarah Jawa.
1.  Pulau Jawa
Berisi data-data geografis mengenai Pulau Jawa
2.  Masyarakat Jawa
Masyarakat Jawa ialah mereka yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan secara geografis mereka dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut Magnis, secara sosial masyarakat Jawa dibedakan menjadi tiga, yaitu: wong cilik (orang kecil) yang terdiri dari kaum petani dan mereka yang berpendapatan rendah, priyayi yakni para pegawai pemerintahan dann kaum intelektual, dan ketiga ndara atau kaum ningrat dalam arti keluarga kerajaan.
3.  Ringkasan Sejarah Jawa
a.  Prasejarah
Berisi gambaran sosial-keagamaan masyarakat Jawa di masa lampau.
b.  Kerajaan-kerajaan Jawa Tengah Pertama
Magnis hanya menjelaskan bahwa peninggalan-peninggalan berupa candi, arca serta prasasti dan lain-lain disinyalir sebagai bukti adanya kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Tengah.
c.  Kerajaan-kerajaan Jawa Timur Pertama
Di sini dijelaskan mengenai keberadaan berbagai kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Timur, mulai dari Kerajaan Airlangga sampai dengan kerajaan di Kediri pada tahun 1222.
c.1.  Kerajaan Majapahit
Rupanya Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang paling berpengaruh dalam sejarah Jawa, secara panjang lebar Magnis membahasnya dalam subbab ini.
c.2.  Kedatangan Agama Islam dan Perkembangan Selanjutnya
Dalam subbab ini Magnis menjalaskan mengenai nasib masyarakat Jawa setelah kedatangan berbagai orang dari luar seperti pedangan Gujarat dan juga Eropa. Pedagang dari Gujarat membawa kebudayaan Islam sementara orang Eropa membawa kebudayaan modern, hal tersebut membawa pengaruh yang sangat besar bagi kondisi sosial-keagamaan masyarakat Jawa, terlebih setelah Belanda datang dan menjajah.
Bab III Dua kaidah Dasar Kehidupan Masyarakat Jawa
Bertolak dari pemahaman Hildred Geertz, penjelasan Magnis berfokus pada kaidah-kaidah moral yang berlaku dalam masyarakat Jawa.
1.  Prinsip Kerukunan
a.  Rukun
Rukun berarti keadaan harmonis. Namun demikian, menurut Magnis, rukun lebih diartikan sebagai cara bertindak, yakni tindakan untuk tidak mengganggu keselarasan hidup yang sudah ada, menghindari terjadinya konflik masyarakat.
b.  Berlaku Rukun
c.  Rukun dan Sikap Hati
2.  Prinsip Hormat
3.  Etika Keselarasan Sosial
Bab IV Pandangan Dunia Jawa
Menurut Magnis “pandangan dunia” yakni semua keyakinan deskriptif yang dipahami oleh manusia untuk menjelaskan realitas berdasarkan pengalamannya. Masih menurut Magnis, yang menarik dari pandangan dunia masyarakat Jawa ialah mereka tidak melihat relitas secara terpisah melainkan satu kesatuan utuh dan bertolok ukur pada kondisi psikis tertentu, yakni; ketenangan, ketentraman dan keseimbangan batin.
1.  Alam Numinus dan Dunia
a.  Kesatuan Numinus antara Masyarakat, Alam dan Alam Adikodrati
Magnis menjelaskan bahwa ruang lingkup kehidupan orang Jawa ialah masyarakat dan alam. Alam pun tidak hanya sebatas alam empiris melainkan juga alam metempiris (gaib). Dan uniknya, alam empiris merupakan perwujudan dari alam metempiris. Dengan kata lain, alam empiris merupakan menifestasi adanya kekuatan gaib.
Orang Jawa pun, masih menurut Magnis, meyakini bahwa keselamatan hidupnya bergantung pada kekuatan gaib tersebut. Dan karena itulah mereka kemudian menyikapinya dengan mengadakan berbagai ritual, antara lain: acara slametan, ziarah makam, doa-doa, sesaji dan sebagainya.
b.  Koordinasi
Kesatuan antara manusia dan alam, baik alam empiris maupun alam metempiris bagi orang Jawa, menurut tinjauan Magnis, telah melahirkan sebauh koordinat (perhitungan) tertentu. Perhitungan-perhitungan tersebut dapat dijumpai dalam buku risalah yang disebut Primbon. Primbon memuat berbagai macam perhitungan atau rumusan sakral yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat Jawa.
c. Tempat yang Tepat sebagai Paham Kunci
Dalam hal ini nampaknya Magnis pun mengalami kesulitan untuk menjelaskan “tempat yang tepat” dalam pandangan etika Jawa. Ia sendiri mengakui bahwa tidak ada bidang eksistensi manusia yang semata-mata ditentukan oleh hukum objektif. Melainkan orang Jawa, menurut Magnis, tidak sepenuhnya menyadari eksistensi dirinya kecuali hanya sebatas memahami bahwa setiap perbuatan pada akhirnya akan dikembalikan kepada kekuatan gaib yang “serba angker” (kosmos).
2. Yang Numinus dan Kekuasan
Salah satu sisi dari pandangan dunia orang Jawa, yakni menganggap bahwa individu-individu yang berkuasa memiliki pertalian khusus dengan yang maha gaib.
a.  Hakikat Kekuasaan
Menurut pengakuan Magnis, kekuasaan bagi orang Jawa bukan semata-mata gejala sosial melainkan lebih merupakan menifestasi energi kosmos yang menyeluruh.
b.  Raja sebagai Pemusatan Kekuatan Kosmis
Raja, masih menurut penuturan Magnis, merupakan sosok tertentu yang memiliki kemampuan untuk menyerap seluruh energi kosmos. Oleh sebab itu, masyarakat Jawa memposisikan raja pada tingkatan sakral. Di samping itu, raja juga dijadikan sebagai simbol kesejahteraan hidup.
c.  Kraton sebagai Pusat Kerajaan Nominus
Selain raja, kraton sebagai tempat kediaman seorang raja pun memiliki posisi yang istimewa bagi masyarakat Jawa. Magnis menganalogikan bahwa kraton bagaikan sumber cahaya yang dapat menerangi daerah sekelilingnya, dalam hal ini ialah seluruh wilayah kerajaan.
d. Kekuasaan dan Moral
Dalam paham kekuasaan masyarakat Jawa tertanam bahwa raja merupakan sosok manusia linuwih, adil, bijak dan dicintai rakyat karena mampu melindungi mereka dari marabahaya.
3.  Dasar Nominus Keakuan
Keistimewaan seorang raja, berdasar rumusan Magnis bahwa ia merupakan wadah kekuatan ilahi, yang sebetulnya, hal tersebut bisa berlaku bagi setiap orang.
a.  Kisah Dewaruci
Inti dari kisah Dewaruci yang dapat ditangkap dari penuturan Magnis, bahwa Dewaruci merupakan inti dari kebatinan orang Jawa. Dengan melaui laku tertentu setiap orang Jawa dapat berjumpa dengan dewarucinya masing-masing, dengan kata lain “manunggaling kawulo gusti” (bersatunya antara jasad dan batin). Ajaran moral yang dapat dipetik dari kisah tersebut, bahwa inti dari hidup orang Jawa tidak terletak pada manunggaling kawulo gusti melainkan pengabdian sosial yang harus ditunaikan setelah seseorang berhasil mencapai derajat tertinggi dari kehidupan.
b.  Pengertian tentang Sangkan-paran
Sangkan-paran dalam arti harfiah ialah asal dan tujuan hidup manusia. Pada intinya, pemaparan mengenai sangkan-paran ini Magnis hanya menjabarkan intisari dari kisah Dewaruci di atas.
c.  Sangkan-paran sebagai Praksis Kehidupan
Praksis sangkan-paran, menurut Magnis, untuk menjelaskan bagaimana manusia berhadapan dengan hakikatnya yang sebenarnya, yakni memaknai hidup. Kemudian secara panjang lebar Magnis memaparkan tentang kaidah ideal kehidupan masyarakat Jawa.
d.  Takdir
Takdir, berdasarkan penjelasan Magnis, merupakan garis-garis hidup dalam tatanan kosmos. Masyarakat Jawa sangat meyakini bahwa manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari takdir yang membelenggu, hidup semata-mata hanya mengikuti suratan takdir. Melawan nasib tidak ada gunanya, kecuali hanya akan mengacaukan tatanan kosmos.
Bab V Koordinat-Koordinat Umum Etika Jawa
Masih menurut penjelasan Magnis bahwa koordinat-koordinat umum etika Jawa dilambangkan dalam ungkapan sepi ing pamrih, rame ing gawe dan memayu hayuning bawana.
1.  Sikap Batin yang Tepat
Dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah ajaran moral yang oleh Magnis disebut sebagai “sikap batin yang tepat” yakni sebuah pendirian batin untuk selalu mengendalikan hawa nafsu dan egoisme (pamrih: mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum). Dalam kepustakaan Jawa untuk menggambarkan tindakan hawa nafsu tersebut dikenal istilah malima yakni madat, minum, maling, madon dan main. Oleh karena itu, untuk menghindari dua hal yang sangat berbahaya tersebut masyarakat sering melakukan laku tapa, yakni suatu upaya untuk mengendalikan diri.
2.  Tindakan yang Tepat dalam Dunia
Dari konseps mengenai “sikap batin yang tepat” muncullah sebuah pandangan dalam masyarakat Jawa bahwa manusia jangan mengikat diri pada dunia akan tetapi membebaskan diri dari dunia, namun demikian bukan berarti menarik diri dari dunia. Dari satu pemahaman tersebut kemudian sampailah pada suatu ungkapan “rame ing gawe, sepi ing pamrih dan memayu hayuning bawana”. Yang dimaksud rame ing gawe yakni kewajiban untuk bekerja keras, sementara sepi ing pamrih berarti jauh dari sifat-sifat egois. Bila kedua ungkapan tersebut digabung melahirkan sebuah pengertian bahwa orang Jawa hendaknya selalu bekerja keras namun juga harus mengindari pamrih (imbalan). Kemudian memayu hayuning bawana ialah memperindah kehidupan dunia dalam keselarasan kosmos.
3.  Tempat yang Tepat
Pengertian tentang “tempat yang tepat” merupakan satu kesimpulan bahwa ada beberapa pertimbangan yang harus diindahkan oleh manusia, sebagai konsekuensi dari pemahaman-pemahaman di atas. Pertimbangan tersebut terkait dengan adat-istiadat, norma sosial, tata krama (unggah-ungguh) dan tradisi.
4. Pengertian yang Tepat
Pandangan Jawa mengenai sikap batin dan tidakan yang tepat didasari atas pemahaman tentang tempat yang tepat. Barang siapa yang memahami tempatnya dalam masyarakat, ia juga memiliki sikap batin yang tepat dan sengan demikian akan bertindak tepat. Dan sebaliknya, siapa yang membiarkan dirinya dikuasai oleh nafsu-nafsu dan pamrihnya menunjukkan bahwa ia belum mengerti tempatnya dalam kosmos. Artinya ia belum memiliki pengertian yang tepat. Pengertian yang tepat bagi orang Jawa dikenal dengan istilah “rasa”, harus dirasakan. Konon dalam rasa realitas yang sebenarnya (kosmos) membuka diri.
5.  Etika Wayang
Berdasarkan pemaparan Magnis, wayang merupakan sebuah pagelaran yang sarat dengan ajaran moral. Ajaran moral yang disampaikan bukan hanya mengenai keseimbangan antara baik dan jahat melainkan juga tentang pluralitas di dalamnya. Setiap penokohan dalam wayang sudah memiliki pakem-nya masing-masing, entah itu sebagai Pandawa maupun Kurawa. Dengan kata lain, Magnis menjelaskan bahwa masyarakat Jawa selalu membuka diri bukan hanya terhadap hal-hal yang baik melainkan hal-hal jahat pun memperoleh tempatnya, kedua-duanya dibutuhkan, setidaknya untuk menjaga stabilitas kosmos.
Bab VI Beberapa Masalah Khusus
Beberapa masalah khusus dalam etika Jawa yang perlu diperhatikan yakni:
1.  Keluarga, Keakraban dan Hormat
Pemahaman tentang rame ing gawe dan sepi ing pamrih, bagi orang Jawa sendiri ternyata dipahami sebagai tuntutan hidup yang membelenggu. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu ruang yang bebas dari tuntutan hidup tersebut, itulah keluarga. Magnis menambahkan bahwa keluarga merupakan satu-satunya tempat di mana orang Jawa menjadi dirinya sendiri, aman dan bebas dari segala tuntutan lahiriah dan batiniah.
2.  Tentang Etika Seksual Jawa
Ada tiga hal yang menarik bagi Magnis dalam etika seksual Jawa ini, pertama; hubungan seksual tidak dipandang sebagai sesuatu yang problemtis secara moral. Pertimbangan mengenai hubungan seksual di luar perkawinan bukan karena hubungan seksualnya yang buruk melainkan karena akibat-akibat yang tidak diinginkan. Kedua; masyarakat Jawa tidak memiliki harapan yang berlebihan di bidang seksual. Penyelewengan terkait dengan hubungan seksual tidak diartikan sebagai suatu tindakan jahat melainkan sesuatu yang harus diperbaiki, dengan kata lain, pengawasan masyarakat harus diperketat. Ketiga; mengenai hal ini masyarakat Jawa tidak berambisi untuk menegakkan prinsip moral mutlak melainkan agar ketenangan dan keselarasan masyarakat tetap terjaga.
3.  Ilmu Hitam
Bagi masyarakat Jawa keberadaan ilmu hitam sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Aktivitas laku tapa atau semedi merupakan suatu laku batin untuk dapat menyerap kekuatan-kekuatan kosmis (kekuatan gaib), sementara kekuatan gaib tersebut dapat dipergunakan untuk tujuan baik maupun tujuan jahat. Namun demikian, penggunaan kekuatan kosmis tersebut hendaklah tetap harus memperhatikan sikap batin, tindakan serta pengertian yang tepat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
4.  Semar
Semar merupakan salah satu penokohan dalam pagelaran wayang, namun demikian keberadaan semar ini memiliki filosofi hidup tersendiri, keberadaan tokoh Semar memiliki koordinat terpenting dalam etika Jawa. Semar merupakan figur rakyat jelata, sebagai abdi dalem ia bebas dari pamrih dan hidupnya semata-mata hanya untuk menjalankan darmanya sebagai abdi dalem. Namun dibalik sosoknya yang sederhana, ia memiliki kesempurnaan etis orang Jawa. Ia hadir sebagai pelengkap dan sekaligus sosok inti kebatinan  masyarakat Jawa.
Bab VII Etika Sebagai Kebijaksanaan Hidup
Sejauh mana etika Jawa bisa dipandang sebagai etika dalam pengertian yang sebenarnya (barat)? Dalam bab ini kita bisa menyaksikan kepiawaian Magnis dalam memainkan kata, tentu berdasar analisis kritisnya.
1.  Etika dan Aksi
Orang Jawa mengembangkan pengertian etisnya dengan rasa. Dengan kata lain, rasa merupakan epistem etika Jawa. Etika Jawa merupakan etika pengertian. Sekali lagi Magnis menyampaikan bahwa etika Jawa bukanlah etika aksi yang bertujuan terhadap perubahan-perubahan tertentu melainkan suatu proses pematangan. Etika Jawa ini tidak bisa disandarkan dengan etika Aristotelian, etika Jawa juga bukan etika passivitas.
2.  Kedudukan Keutamaan-keutamaan Moral
Keselarasan dalam etika Jawa memiliki kedudukan istimewa, keselarasan tersebut ialah membatasi diri dan ketersediaan memenuhi kewajiban (rame ing gawe, sepi ing pamrih). Sebuah keutamaan yang bersifat formal dan negatif. Dengan kata lain, etika Jawa tidak menekankan apa yang dituntut melainkan apa yang harus dicegah.
3.  Relativasi Baik dan Buruk
Salah satu ciri etika yang menekankan fungsi kehendak, kata Magnis, ialah membedakan secara tajam antara yang baik dan yang jahat. Sementara itu berbeda dengan etika Jawa yang justeru malah memperlukan entitas keduanya. Dalam hal ini ada dua hal yang menarik perhatian Magnis, yakni pertama; tindakan salah dalam etika Jawa tidak diartikan sebagai kehendak buruk melainkan karena kurangnya pengertian (durung ngerti). Kedua; etika Jawa memberi pamahaman bahwa yang jahat bukanlah sesuatu yang tidak boleh ada. Hal ini dipertegas dengan sebuah pemahaman bahwa tindakan yang tepat selalu relatif terhadap tempat dan keadaan.
4.  Moral dan Estetika
Tolok ukur yang dipakai orang Jawa untuk memahami perilaku etisnya dengan kategori halus-kasar. Hal tersebut sangat beralasan bahwa kehalusan merupakan hakikat dari realitas kosmis yang berada di balik alam lahiriah.
5.  Etika Kebijaksanaan
Tuntutan dasar etika Jawa terletak pada penyesuaian diri terhadap lingkungan serta memenuhi kewajiban-kewajiban yang berlaku. Kategorisasi dalam etika Jawa bukanlah antara yang baik dan jahat melainkan antara yang bijaksana dan yang bodoh. Siapa yang tidak memenuhi tuntutan etika Jawa dianggap sebagai yang bodoh, bukan jahat.
Bab VIII Etika Jawa dan Relativisme
Di sini, secara argumentatif Magnis berusaha mencari benang merah antara etika Jawa dan etika barat. Sampai kemudian ia menyimpulkan bahwa etika Jawa merupakan etika kebijaksanaan sementara etika barat merupakan etika kewajiban. Hal tersebut ditujang oleh beberapa pengertia.
1.  Perbedaan antara Etika Jawa dan Etika Barat
Perbedaan antara keduanya terletak pada pertama; prinsip-prinsip keselarasan. Kedua; etika kebijaksanaan mengenal kewajiban melainkan tidak dalam pengertian kategoris. Ketiga; penekanan dalam etika kebijaksanaan ialah tindakan yang bijaksana bukan tekanan batin.
2.  Relativisme Etis?
Akhirnya Magnis menyimpulkan bahwa etika Jawa dan etika barat harus dipahami dalam wilayahnya masing-masing karena keduanya berangkat dari pemahaman yang berbeda mengenai kosmis.
3.  Tahap-tahap Perkembangan Kesadaran Masyarakat Moral Masyarakat?
Di sini, Magnis berusaha untuk menjelaskan etika Jawa ditinjau dari kategrisasi Lowrence Kohlberg. Tapi kemudian ia juga mengkritisi sejauh mana pendapat Kohlberg memeiliki relevansi terhadap etika Jawa.
4.  Sebagai Penutup

TINJAUAN
1. Apresiasi
Franz Magnis-Suseno merupakan seorang peneliti yang sangat serius dengan pekerjaannya, hal tersebut nampak sekali dalam karya tulis tersebut. Saya sendiri sendiri sulit membayangkan seberapa besar semangatnya untuk mendaptkan data-data langka tersebut, apalagi bila mengingat bahwa teks-teks aslinya tertulis dalam bahasa Jawa klasik sementara ia sendiri bukan orang Jawa, bahkan bukan orang yang akrab dengan budaya Jawa. Meskipun data-data yang ia pilih merupakan data-data dari para antropolog namun ia mampu menguraikannya secara filosofis, tentu karena ia memiliki latar belakang filsafat yang sangat kuat.
Sebagai orang Jawa, saya pribadi merasa sangat terbantu oleh penuturan Magnis dalam buku tersebut dan tentunya ada banyak hal yang baru saya ketahui setelah membaca karya tulis tersebut. Dan bahkan sebagai orang luar, pemahamannya mengenai etika Jawa telah melebihi orang asli Jawa yang tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari hal yang sama.
Sebagai peneliti, usahanya untuk menjaga objektifitas patut diacungi jempol terlebih ketika ia berusaha menyandingkan antara etika Jawa dan etika Barat. Sebagai bentuk kehati-hatiannya, ia tidak serta-merta menghakimi bahwa etika Jawa begini sementara etika barat begitu. Melainkan ia berusaha untuk mencari titik temu di mana letak persamaan dan perbedaan keduanya.
2. Tanggapan Kritis
Namun demikaian, menurut hemat kami, Magnis belum sepenuhnya menjelaskan apa dan bagaimana etika Jawa. Hal ini terlihat ketika ia mencoba memberi batasan mengenai apa yang dimaksud dengan Jawa. Dalam penelitian ini, ia belum menjelaskan etik Jawa yang mana padahal etika Jawa memiliki banyak versinya. Bila kita berpegang bahwa bahasa menunjukkan budaya, kita bisa melihat ada berapa versi bahasa yang berlaku di Jawa dan setiap bahasa tentu memiliki pengertian yang berbeda mengenai budaya maupun etikanya.
Dalam penulisannya, tampaknya Magnis juga mengalami sedikit kekacauan. Misalnya ketika membahas tentang Wayang dan Semar misalnya, dua hal tersebut merupakan sesuatu yang tak bisa dipisahkan akan tetapi ia membahasnya dalam bab yang berbeda yang akhirnya adanya hubungan di antara keduanya menjadi tidak nyambung.
Nampak sekali Magnis pun begitu berpedoman pada hasil penelitian Clifford Geertz, terutana dalam penjelasannya mengenai struktur sosial masyarakat Jawa. Padahal sebagaimana kita maklumi tesis Geertz tersebut masih menjadi polemik yang tak berkesudahan.
Dalam aspek kesejarahan, penjelasan Magnis tidak begitu memukau. Ia juga tidak menjelaskan secara lebih jauh mengnai asal-muasal (sejarah) mengenai ritual tertentu yang berlaku bagi masyarakat Jawa. Ia hanya berusaha menarik sisi filosofis dari data-data yang ia jumpai dalam penelitiannya.
Tentu secara teknis, ada beberapa istilah yang pemahamannya kurang sesuai atau kurang lengkap, atau bahkan terkesan dicampur-adukkan.
Kalau diibaratkan dengan orang melihat rumah, Magnis baru sampai di pelataran rumah dan belum sempat melihat ke dalam. Hal ini nampak dalam pemaparannya yang terkesan deskriptif dan tidak menyentuh dengan apa yang disebut rasa. Kekeliruan fatal ialah ketika laku tapa yang sangat terkait dengan rasa hanya dijelaskan deskriptif-filosofis padahal kita tahu bahwa alam kebatinan Jawa bukanlah sesuatu yang dengan mudah dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada satu ungkapan bahwa kita baru bisa tahu apa itu laku, tentu bila kita nglakoni.
3. Kesimpulan
Secara umum hasil karya tersebut patut dipertimbangkan, tentu karena ia memiliki banyak data-data yang tidak dimiliki oleh peneliti lain. Meski kemudian, ada beberapa hal yang masih perlu dikritisi. []


Tidak ada komentar:

Posting Komentar