Minggu, 15 Desember 2013

tembang lagu dolanan



Suku Jawa memiliki kebudayaan yang khas, di mana dalam sistem budayanya digunakan simbol-simbol atau lambang-lambang sebagai sarana atau media untuk menitipkan nasihat-nasihat bagi bangsanya. Salah satu bentuk budaya Jawa yang merupakan simbol yang digunakan sebagai sarana mendidik adalah nyanyian rakyat. Nyanyian rakyat merupakan folklor karena diperoleh melalui tradisi lisan. Nyanyian rakyat biasa didendangkan ketika bulan purnama, atau ketika anak-anak bermain dengan teman sebayanya. Sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional, lagu rakyat tidak diketahui siapa penciptanya karena pada saat lagu itu diciptakan rasa kebersamaan masih jauh lebih dipentingkan daripada kepentingan individual.
        Saat ini lagu-lagu tersebut sudah jarang dinyanyikan oleh anak-anak. Anak-anak lebih menyukai permainan modern daripada permainan tradisional. Sehingga lagu-lagu yang terdapat dalam permainan tersebut juga jarang didendangkan, khususnya anak-anak di daerah perkotaan nyaris tidak lagi mengenali lagu-lagu tersebut. Keadaan yang seperti ini akan mengakibatkan punahnya lagu-lagu tersebut. Padahal lagu-lagu tersebut mengandung makna yang mampu mempengaruhi pembetukan karakter mereka. Selain  itu lagu-lagu tersebut merupakan warisan budaya yang harus dijaga.
Berikut beberapa contoh tembang lagu dolanan anak:

MENTHOK-MENTHOK
 Menthok, menthok, tak kandani
 mung lakumu, angisin-isini
 mbok yo ojo ngetok, ono kandhang wae
 enak-enak ngorok, ora nyambut gawe
 menthok, menthok … mung lakukumu megal megol gawé guyu
Makna dari lagu tersebut adalah menggambarkan binatang menthok yang mempunyai sifat pemalas, seperti yang digambarkan pada lirik lagu “Bokya aja ndheprok, ana kandhang wae (Jangan hanya diam dan duduk, di kandang saja). Enak-enak ngorok, ora nyambut gawe (Enak-enak mendengkur, tidak bekerja)”. Namun dibalik sikapnya yang pemalas, menthok masih punya kemampuan untuk membuat orang lain tertawa. Nilai pendidikan karakter yang terdapat pada lirik lagu tersebut adalah mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak malas dan bekerja keras dalam melakukan berbagai macam aktifitas. Selain itu, terdapat nilai pendidikan yaitu percaya diri. Percaya diri bahwa setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan pada dirinya. Jadi, setiap orang itu harus bangga dan tidak boleh menganggap dirinya rendah jika dibandingkan dengan orang lain.


 JAMURAN
 Jamuran… jamuran…ya ge ge thok…
 jamur apa ya ge ge thok…
 Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,
 sira badhe jamur apa?
Nilai pendidikan dalam lagu ini adalah ketika anak melakukan permainan. Mereka akan melantunkan dengan kompak dan menaati peraturan apapun yang diminta oleh pemain dadi. Pada lirik lagu Semprat-semprit jamur opo, pemain dadi meminta kepada pemain lain untuk menjadi jamur apa yang dia mau, maka pemain lain harus mematuhi apa yang dikehendaki pemain dadi. Hal ini mengajarkan pada anak-anak bahwa hidup ini penuh dengan aturan. Maka segala aturan harus ditaati sesuai dengan peraturan. Karakter yang dapat ditanamkan dalam lirik lagu ini adalah kedisiplinan dalam memauhi segala aturan yang berlaku di kehidupan.
GUNDUL-GUNDUL PACUL
 Gundul gundul pacul-cul,
 gembelengan
 Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
 Wakul ngglimpang
 segane dadi sak latar
Lirik lagu Gundul-Gundul Pacul menggambarkan seorang anak yang jelek (gundul), sombong (gembelengan), dan tidak bertanggung jawab. Sifatnya tersebut mengakibatkan anak melakukan hal yang tidak bermanfaat (bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan di jalan (tidak bermanfaat lagi)). Lirik lagu Gundul-Gundul Pacul mengajarkan kepada anak-anak untuk bersikap selalu rendah hati atau tidak sombong. Bersikap sombong hanya akan mengakibatkan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat atau tidak ada gunanya. Orang yang sombong tidak akan pernah mampu untuk mengemban amanah yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik, seperti pada lirik Nyunggi… nyunggi, wakul..kul… Gembelengan …. (Membawa bakul dengan gayanya yang angkuh dan sombong). Wakul glempang segane dadi sak latar (bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan di jalan (tidak bermanfaat lagi), anak pada lirik lagu tersebut mempunyai tanggung jawab untuk membawa bakul, namun karena anak tersebut membawa bakul dengan sombong, maka bakulnya jatuh dan nasinya tumpah yang mengakitkan nasi tersebut tidak bisa dimakan lagi. Nilai pendidikan karakter pada lagu tersebut adalah untuk selalu bersikap rendah hati dalam hal apapun.
Dari beberapa tembang lagu diatas seharusnya kita benar-benar menjaga kelestarian tembang lagu dolanan anak. Selain melestarikan budaya, makna yang terkandung sangat membantu dalam proses kehidupan sehari-hari. Selain itu lagu-lagu tersebut juga sangat menyenangkan saat dimainkan…
Sumber: http://wisnuwidiansyah.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar