Selasa, 17 Desember 2013

UPACARA SEKATEN

1.       Pendahuluan
Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit pada tahun 1400 M, agama Islam mulai tumbuh di Tanah Jawa. Hal ini ditandai dengan munculnya kerajaan Demak di Jawa Tengah. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa (pesisir). Pada perkembangannya, muncul pula Kerajaan Pajang, selanjutnya Mataram, Kartasura dan yang terakhir Surakarta Hadiningrat. Seiring penyebaran ajaran agama Islam yang semakin luas, kerajaan-kerajaan tersebut memiliki andil yang besar. Terlebih kelima kerajaan tersebut merupakan kerajaan Islam. Secara otomatis pedoman dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari bersumber dari ajaran agama Islam.
Selain sebagai pusat syiar agama Islam, keraton juga turut menyumbangkan andil dalam lahirnya tradisi-tradisi kebudayaan. Pencampuran berbagai budaya menyebabkan ragam upacara-upacara tradisi semakin beragam. Antara budaya Islam, kejawen, dan juga tradisi Hindhu-Budha sebagai sisa-sisa dari budaya Kerajaan Majapahit berbaur menjadi satu. Proses akulturasi tersebut terjadi seiring berjalannya waktu.
Salah satu contoh upacara tradisi yang berhubungan dengan budaya Islam adalah upacara sekatenan di keraton Surakarta Hadiningrat. Upacara tersebut merupakan upacara peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara tersebut berhasil menyedot antusiasme masyarakat untuk menyaksikan jalannya upacara. Hal ini merupakan tradisi keraton yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Solo dan sekitarnya.
2.      Pengertian
Sekaten merupakan sebuah upacara keraton yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon, asal-usul upacaa ini telah muncul sejak zaman Kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menurut cerita rakyat, kata sekaten berasal dari istilah kredo dalamagama Islam, yaitu Syahadatain.
Sekaten berhubungan erat dengan proses Islamisasi di Tanah Jawa. Dahulu kala, pada saat Kerajaan Demak ada wali songo yang sedang menyebarkan ajaran agama Islam. Mereka menggunakan berbagai macam cara berdakwah, diantaranya menggunakan media budaya. Pada waktu itu orang Jawa masih menganut paham Hindhu, kepercayaan Animisme dan Dinamisme yang masih kuat. Para ulama sepakat untuk mengislamkan masyarakat Jawa. Sebelum Islam masuk, masyarakat Jawa sudah gemar akan gamelan. Gamelan biasanya dipakai sebagai pengiring dalam pertunjukan wayang, pengiring gendhing Jawa. Maka oleh para wali menggunakan gamelan sebagai media dakwah.
Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang adalah tokoh yang menggunakan cara berdakwah tersebut. Pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sunan Kalijaga berencana mengadakan pertunjukan wayang kulit sekaligus untuk menarik perhatian orang-orang agar memeluk agama Islam. Setiap tahun sekali, di Masjid Agung yaitu di bulan Maulud diadakan tablik akbar atas prakarsa Sunan Kalijaga. Untuk melihat pertunjukan wayang tersebut, tiketnya hanya satu yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat. Itu artinya memeluk agama Islam. Maka tradisi itu lah muncul kata syahadatain dalam perayaan Maulid Nabi.
Karena berjalannya waktu, pengucapan oleh orang Jawa pada kata syahadatain mulai berger dan menjadi sekaten. Upacara ini dilaksanakan pada setiap tanggal 5 Mulud (bulan Jawa) atau Rabiul Awal (bulan Hijriyah). Sekaten dilaksanakan di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta.
Perayaan sekaten bertepatan dengan hari raya Maulid Nabi, yang merupakan tradisi lanjutan dari para wali. Gamelan ditabuh saat sekaten dengan maksud untuk menarik perhatian masyarakat. Sekaten dilaksanakan juga untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tujuan diadakannya sekaten ini adalah untuk menggugah keimanan agar menghayati perintah Nabi. Berikut rangkaian upacaranya.
Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi Dalem (punggawa keraton) bersama-sama dengan dia set gamelan Jawa. Gamelan tersebut bernama Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu. Iring-iringan ini bermula dari pendhapa Pancaniti menuju Masjid Agung di alun-alun utara dengan dikawal oleh prajurit keraton. Kyai Nagawilaga akan menempati akan menempati sisi utara dari amsjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud selama 7 hari berturut-turut. Pada malam terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam keratin.
Dua hari sebelu acara Grebeg Muludan, diadakan acara Tumplak Wajik. Acara ini digelar di halaman istana Magangan pada pukul 16.00 sore. Tumplak Wajik merupakan acara kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan, lumpang (alat untuk menumbuk padi) dan berbagai peralatan lain. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara ini adalah lagu Jawa popular seperti : Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal Awil, dan lagu rakyat lainnya. Dengan kotekan, menandai awal pembuatan Gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan nantinya.
Acara puncak sekaten ini ditandai dengan dilaksanakannya Grebeg Muludan pada tanggal 12 mulai jam 08.00 pagi. Tanggal 12 Mulud merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebuah gunungan yang terbuat dari beras, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuran akan dibawa dari istana kerajaan Mataram kemudian dibagikan kepada masyarakat. Prosesi ini dikawal oleh 10 kompi prajurit keratin yaitu : Wirabraja, Daeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrijero, Surakarsa, dan Bugis. Masyarakat percaya, bahwa Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah atau lading supaya terhindar dari malapetaka serta menyebabkan tanah menjadi subur untuk ditanami.
Demikianlah acara sekaten digelar. Sebagai warisan budaya bangsa, kita hendaknya melindungi, menjaga dan melestarikannya agar tidak tenggelam ditengah derasnya arus globalisasi. Upacara sekaten merupakan suatu rangkaian upacara adat yang bertujuan untuk mendekatkan diri kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta menghayati ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW.
3.      Asal Mula Gamelan Sekaten Di Surakarta
Gamelan sekaten Surakarta bukan berasal dari Demak atau Pajang. Sejak Pangeran Hadipati Benawa di Pajang, hingga Prabu Hanyakrawati Sedo Krapyak gamelan sekaten tidak dibunyikan tetapi masih disimpan di Demak. Setelah kerajaan Mataraam berdiri dengan Rajanya Sultan Agung Hanyakrakusuma, maka dibuatlah Gamelan baru dengan ditandai Candra Sengkala “Rerengan Nanas Tinata ing Wadah”. (1566). Pada masa Mataram kerajaan dipecah menjadi dua yakni kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, dan pada waktu itulah gamelan juga dipecah menjadi dua.
Kasultanan Yogyakarta mendapat bagian : Bonang, Demung, Saron, Gong, serta sisanya berada di Kasunanan Surakarta. kemudian setelah PB IV bertahta, sisa gamelan tersebut dilengkapi dan memesan satu gamelan lagi yang baru yang lebih besar dengan Candra Sengkala ”Naga Ralla Nitih Tunggal”. Gamelan tersebut berangka th.1718 M.
Adapun yang membuat gamelan sekaten diataspesanan PB IV tersebut bernama abdi dalem Empu Ganding Pande Gangsa. Gamelan pesanan PB Ivitu kemudian diberi nama Kyai Guntur Madu yang di tempatkan di bangsal selatan, sedang gamelan Sultan Agung di tempatkan di bangsal utara, dengan nama Kyai Guntur Sari.
Jadi asal mula gamelan sekaten Surakarta yakni separuh peninggalan Sultan Agung dengan nama Kyai Guntur Sari dan gamelaan ciptaan PB IV bernama Kyai Guntur Madu.
dari berbagai sumber

sumber:http://ruryarvianto.wordpress.com/2013/01/01/upacara-sekaten/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar