Selasa, 17 Desember 2013

Upacara Tedhak Siten dalam Tradisi Jawa

1.      Pendahuluan
Budaya Jawa memiliki beragam adat istiadat. Adat istiadat itu berjalan beriringan dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya upacara adat Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan. Yang pertama adalah upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan. Yang kedua, upacara yang menyangkut hubungan masyarakat Jawa dengan siklus alam. Dan yang terakhir yaitu upacara adat kelembagaan.
Upacara yang menyangkut hubungan masyarakat Jawa dengan siklus alam, misalnya bersih desa, ruwat bumi, memohon hujan, musim panen dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat kelembagaan antara lain Garebeg, Labuhan, Sekatenan, Suran dan lain sebagainya. (Sutrisno, 2005:IV).
Lebih lanjut menurut Sutrisno, siklus kehidupan orang Jawa terbagi menjadi enam periode, yaitu :
a.      Masa kehamilan
b.      Masa melahirkan
c.       Masa kanak-kanak
d.     Masa remaja
e.      Masa dewasa
f.        Masa meninggal atau paripurna
Terdapat upacara-upacara adat yang dilaksanakan di setiap siklus kehidupan itu. Jika dihitung jumlahnya kurang lebih ada 46 macam. Namun dalam makalah ini tidak akan membahasnya satu per satu. Kali ini penulis memilih salah satu upacara dalam siklus masa kanak-kanak yaitu upacara Tedhak Siten. Namun upacara ini semakin lama semakin jarang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Tedhak Siten tergerus oleh derasnya arus globalisasi.
2.      Pengertian Upacara Tedhak Siten
Secara etimologis, tedhak siten berasal dari kata ‘tedhak’ dan ‘siten’. Tedak berarti kaki atau langkah, sedangkan siten berasal dari kata dasar siti yang artinya tanah. Jadi tedhak siten adalah upacara adat yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia 7 lapan (7 x 35 hari) atau 245 hari. Pada usia itu, si anak mulai menapakkan kakinya untuk pertama kali di tanah. Oleh orang tuanya diajari atau dituntun menggunakan kakinya untuk belajar berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak untuk menghadapi kehidupannya.
Seperti dalam kepercayaan orang Jawa, manusia dalam hidupnya dipengaruhi oleh empat elemen, yaitu : bumi, angina, api dan air. Maka untk menghormati bumi diadakanlah upacara tedhak siten ini. Harapannya agar si anak selalu sehat, selamat dan sejahtera dalam menapaki jalan kehidupannya.
Yang paling baik pelaksanaannya adalah bertepatan dengan weton (hari lahir) si anak. Weton adalah kombinasi antara nama hari umum dengan nama hari Jawa. Misalnya Setu Kliwon, Rebo Legi, Minggu Pahing dan sebagainya. Biasanya, penyelenggaraan upacara ini dilakukan pada pagi hari di halaman depan rumah.
3.      Tahapan Pelaksanaan
Ada beberapa urutan dalam pelaksanaan upacara tedhak siten. Pertama-tama orang tua menuntun anak agar berjalan di atas jadah sebanyak tujuh buah. Jadah tadi memiliki beragam warna yaitu merah, putih, hitam, kuning, biru, merah muda, dan ungu. Di daerah lain ada juga yang menggunakan bubur tujuh warna sebagai pengganti jadah 7 warna.
Yang kedua adalah, si anak dituntun untuk menaiki dan menuruni tangga. Tangga dibuat dari batang tebu rejuna atau Arjuna.
Langkah berikutnya adalah si anak dimasukkan ke dalam sangkar atau kurungan ayam. Di dalam kurungan terdapat berbagai benda seperti perhiasan, alat tulis, beras, mainan, padi, kapas, dan berbagai benda lainnya.
Acara yang keempat yaitu menyebarkan udhik-udhik. Udhik-udhik adalah uang logam yang dicampur dengan beras kuning. Ibu si anak menaburkan udhik-udhik tadi ke tanah, lalu jadi rebutan anak-anak kecil.
Prosesi tedhak siten yang terakhir adalah si anak dimandikan dengan air yang dicampur dengan sekar setaman. Kemudian si anak mengenakan baju yang baru.
 4.      Makna Filosofis Upacara Tedhak Siten
Dalam upacara tedhak siten mengandung beragam makna filosofis yang diwujudkan dengan bermacam-macam prosesi dan sesaji. Semanya itu memiliki tujuan dan harapan agar si anak memiliki tubuh yang sehat, dan bisa menjalan kehidupan dengan baik. Dari prosesi awal, hingga yang terakhir memiliki nila-nilai dan harapan dari si orang tua. Makna filosofis dari berbagai prosesi tedhak siten adalah sebagai berikut :
a.       Berjalan melewati tujuh jadah dengan tujuh rupa.
Jadah merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Aneka warna memiliki berbagai makna. Merah melambangkan keberanian. Putih bermakna kesucian. Hitam artinya kecerdasan. Kuning merupakan simbol kekuatan. Biru berarti kesetiaan. Merah muda menandakan cinta kasih dan ungu sebagai lambang ketenangan. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Mulai dari menapakkan kakinya untuk pertama kali ke bumi ini sampai dewasa. Sementara warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak yang akan menghadapi banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya.
Jadah 7 warna yang disusun dari warna gelap ke warna terang menggambarkan masalah yang dihadapai si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan. Jumlah jadah yang dibuat yaitu 7 buah (pitu). Harapannya seberat apa pun masalahnya pasti akan ada jalan keluarnya (mendapatkan pitulungan dari Tuhan Yang Maha Esa). Tujuh buah juga melambangkan jumlah hari yang akan dilalui oleh si anak dalam menjalani kehidupannya.
b.       Tangga tebu wulung
Jumlah anak tangga adalah tujuh buah, dan menggunakan tebu arjuna. Tebu berasal dari kata antebing kalbu, yang berarti penuh tekad dan rasa percaya diri. Dipilih tebu arjuna agar si anak kelak meneladani watak kepahlawanan dan keberanian Arjuna dalam membela kebenaran.
c.       Kurungan
Kurungan ayam yang dihiasi janur dan kertas warna warni. Kurungan ayam ini diisi oleh berbagai benda-benda. Kurungan ayam menyiratkan tentang gambaran kehidupan nyata yang akan dimasuki si anak jika kelak ia dewasa. Kenapa memakai kandang ayam, karena orang tua berharap agar anak dalam mengarungi kehidupan bisa cepat mandiri layaknya ayam. Sedangkan benda-benda yang ada di dalam kurungan itu menggambarkan pekerjaan yang ingin dijalani oleh si anak kelak.
d.      Menyebarkan udhuk-udhuk
Makna dari upacara ini adalah pengharapan kedua orang tua kepada si anak agar nantinya bisa mendermakan rezekinya kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam acara ini, sesaji yang biasa digunakan antara lain kembang boreh, bubur baro-baro, macam-macam bumbu dapur, kinangan. Bubur baro-baro adalah bubur yang terbuat dari bekatul. Sesaji ini ditujukan kepada kakek nini among (plasenta/ari-ari). Sedangkan kembang boreh, macam-macam bumbu dapur, kinangan ditujukan untuk nenek moyang.
Selain sesaji, ada juga perlengkapan pendukung, antara lain bubur merah putih, jajanan pasar, dan pala kependhem. Bubur merah putih melambangkan sengkala (rintangan). Merah artinya darah, sedangkan putih artinya air mani. Beragam jajanan pasar memiliki makna dalam kehidupan kita akan banyak berinteraksi dengan banyak orang dengan beragam karakter sehingga si anak dapat dengan mudah bersosialisasi pada masyarakat. Pala kependhem memiliki makna agar si anak memiliki sifat rendah hati (andhap asor) kepada orang lain.
sumber:http://ruryarvianto.wordpress.com/2012/12/25/upacara-tedhak-siten-dalam-tradisi-jawa/

1 komentar: